Cerita Perjalanan Member Bisa Ekspor Bersama Julio Ekspor



Oke, di artikel kali ini gua mau cerita ke kalian tentang satu member Bisa Ekspor yang tiba-tiba ngirimin gua email. Jujur, gua sendiri belum pernah share cerita ini, jadi biar sama-sama surprise aja. Dia ngasih email berjudul Perjalanan Ekspor, lengkap sama foto-fotonya. Ceritanya lumayan panjang dan menarik, jadi gua print biar bisa langsung gua bacain ke kalian.


Nah, ini udah gua print. Tebal juga, karena ada foto-fotonya. Tapi foto-foto nanti gua tampilin di footage ya, soalnya kalau dari print-an gini agak blur. Intinya gua mau bacain ceritanya supaya kita bisa sama-sama denger gimana perjalanan ekspor dia.


Jadi, judul ceritanya adalah “Perjalanan Ekspor PT Taipan Agro Mulia.”

Singkatnya, dia udah punya PT, dan di akhir 2022 mulai daftar program Bisa Ekspor, ikut edukasi step by step, dan pilih produknya: bungkil sawit (Palm Kernel Expeller). Menurut dia, komoditas sawit itu unggulan di Indonesia, tapi karena modal terbatas, dia ambil produk turunan sawit yang harganya lebih murah.


Langkah pertama, dia coba cari buyer lewat Trade Map, Go4WorldBusiness, Facebook, dan lain-lain. Tapi hasilnya nihil, sementara biaya perusahaan jalan terus: karyawan, sewa gedung, dll. Sampai akhirnya, dia ketemu trader dari Malaysia yang pesan dua kontainer. Karena terlalu excited, dia langsung terima pesanan tanpa perhitungan matang.


Di sinilah masalah mulai muncul.

Dia gak tahu soal:


Pajak ekspor sawit (35 USD per ton),


THC (Terminal Handling Cost),


Volatilitas harga sawit (harga bisa naik turun cepat),


Komisi trader Malaysia (5 USD per metric ton).



Akibatnya, dia harus nanggung kerugian besar:


Pajak ekspor: Rp23,8 juta,


THC: Rp2,9 juta,


Kenaikan harga bahan: Rp8,8 juta,


Komisi trader: Rp3,4 juta.



Totalnya puluhan juta hilang karena salah perhitungan.


Tapi di sini hebatnya: dia gak nyerah. Dia malah ke Jakarta, nyari relasi agen kapal, trader, dan belajar langsung soal prosedur shipment, dokumen, dan cara komunikasi dengan buyer. Semua ilmu itu dia terapkan lagi di Medan.


Hasilnya? Setelah hampir setahun komunikasi intens sama seorang buyer, akhirnya dia dapat order 5 kontainer. Pengiriman sukses, buyer puas, dan dia malah dapat tambahan dua buyer baru dari Cina.


Puncaknya, di Juli 2023, dia dapat kontrak ekspor 2.500 ton senilai 470.000 USD atau sekitar Rp7,5 miliar. Gokil banget! Semua berkat konsistensi, komunikasi, dan keberanian belajar dari kesalahan.


Dari situ, dia bisa:


Buka lapangan kerja untuk 60 orang TKBM (Tukang Bongkar Muat),


Bangun relasi kuat sama supplier,


Ekspansi ke produk baru: PAO (Palm Acid Oil) dengan kontrak perdana senilai Rp6 miliar, dan sukses tanpa kendala besar.



Di akhir emailnya, dia kasih pesan buat member lain:


> “Jangan takut memulai, jangan takut rugi. Evaluasi, improvisasi, konsisten terus sampai berhasil. Karena gak akan pernah ada kesuksesan kalau kita gak berani mulai. Masa depan yang indah ditentukan hari ini, bukan besok atau lusa.”




Gua pribadi merinding baca cerita ini. Dari rugi di awal, sampai akhirnya bisa ekspor miliaran dan bantu puluhan orang di sekitarnya. Inilah kenapa gua bikin komunitas Bisa Ekspor, biar anak-anak muda bisa manfaatin komoditas lokal, bantu petani, bantu masyarakat sekitar, dan jadi orang sukses dengan cara yang bener.


Jadi kesimpulannya: kegagalan itu bukan akhir, tapi awal dari pembelajaran. Kalau konsisten, berani belajar, dan gak putus komunikasi sama buyer, pasti bisa sukses di ekspor.


Comments